Kebutuhan pasar akan teknologi semakin meningkat dan sangat bervariatif. Kondisi perusahaan atau tim pengembang software dari masa ke masa relatif tetap, khususnya dari sisi manajemen pengembangan software. Sekarang kita sudah hidup di abad 21 dimana keadaan sekarang sangat jauh berbeda dengan abad-abad sebelumnya. Tuntutan pengguna jauh lebih tinggi, jumlah pengguna jauh lebih banyak, dan tingkat kerumitan teknologi yang digunakan semakin tinggi. Jika keadaan sudah sedemikian jauh berbeda, sudah seharusnnya manajemen dalam pengembangannyapun juga harus ditingkatkan.

Melihat model pengembangan softaware di indonesia, masih sangat banyak yang tidak peduli dengan manajemen tim, kulitas produk, dan kepuasan pelanggan. Model manajemen pengembangan softaware tidak seperti manajemen pada rumah makan atau pabrik mie instan, dimana mereka pihak menajamen membuat sebuah aturan, yang kemudian sekumpulan aturan tersebut diberikan kepada karyawan untuk dilakukan sesuai bahkan harus persis dengan aturan tersebut. Karyawan tidak ada kuasa apapun untuk melakukan improvisasi. Model tersebut dilakukan secara berulang-ulang setiap hari, untuk mencapai tujuan perusahaan. Model seperti ini tidak ada masalah dan akan baik2 saja, karena memang kebutuhan rumah makan atau pabrik mie instan ya seperti itu-itu saja. Berbeda jika kita terapkan di perusahaan pengembang softaware yang membutuhkan inovasi tingkat tinggi, SDM yang unik, dan kebutuhan pasar yang cepat sekali berubah.

Manajemen yang buruk akan berdampak pada kebiasaan tim pengembang, biasanya yang sering terjadi ketika tuntutan pihak manajer yang seringkali tidak mempertimbangan kemampuan tim pengembang, misalkan waktu normal dikerjakan 30 hari, tapi dipaksa untuk diselesaikan dalam 7 hari. Dampaknya produk dikerjakan dengan kualitas rendah, tidak peduli dengan kualitas penulisan code, proses testing, dan pembuatan dokumentasi. ”Yang penting jalan dulu deh….” kalimat yang sudah lazim diucapkan didalam tim pengembang, code program yang kotor, “nanti juga ada yang membersihkan…”, ini yang sangat merusak tatanan pengembangan softaware di indonesia. Selain itu pada manajemen tradisional seringkali tidak adanya definisi yang jelas dan konsisten mengenai produk yang sudah selesai atau masuk tahap production. Padahal definisi selesai inilah yang sangat memperngaruhi kualitas produk yang di distribusikan.

Pihak mamanjemen atau manajer perlu sebuah pendekatan yang dapat merubah kondisi yang ada saat ini, pendekatan yang mampu mengelola tim dan dapat merespon perubahan pasar yang sangat cepat. Agile adalah salah satu pilihan yang tepat yang harus diambil oleh perusahaan atau manajer untuk menjawab itu semua. Menurut Presman (2015), Agile adalah menggabungkan filosofi dan seperangkat aturan pengembangan software. Filosofi mendorong kepuasan pelanggan dan mengutamakan pengiriman atau distribusi produk secara bertahap, tim yang kecil tapi dengan motifasi yang tinggi, metode informal, dan kesederhanaan pembangunan secara keseluruhan. Kemudian serangkaian aturan pengembangan menekankan pada pengiriman berdasarkan pada analisis dan desain, komunikasi aktif dan berkesinambungan antara tim pengembang dengan pelanggan.

Pada abad 21 kebutuhan pengguna berubah sangat cepat, terkadang hanya dalam jangka satu bulan permintaan pelanggan sudah berubah dan meminta untuk dilakukan perubahan pada software, Akhirnya seringkali software belum sempat didistribusikan sudah harus dilakukan perubahan. Bayangkan jika pada saat ini menggunakan manajmen tradisional yang menjadwalkan waktu pengiriman produk kepelanggan dalam jangka waktu 3 bulan, 6 bulan, bahkan ada yang satu tahun. Akan seperti apa hasil yang didapatkan, masih sesuaikah untuk menjawab kebutuhan pasar yang ada, masih relevan kah dengan permasalah yang ada?, bisa jadi software yang sudah lama ditunggu-tunggu justru tidak sesuai harapan, tidak sesuai kondisi saat ini, akhirnya mau tidak mau harus dilakukan perubahan, harus direfisi dan disesuaikan kebutuhan saat ini. Banyak juga yang membiarkan software tersebut tidak digunakan, karena jika dilakukan perubahan atau penyesuaian akan membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Tim agile adalah tim yang gesit, mampu merespon berbagai perubahan yang berhubungan dengan pembangunan software. Berbagai macam perubahan baik dari perubahan software yang sedang dibangun, perubahan pada anggota tim, perubahan karena adanya teknologi baru, dan semua jenis perubahan yang mungkin berdampak pada software yang sedang mereka bangun atau pada proyek pengadaan software itu sendiri. Produk yang dibangun dengan kualtias tinggi dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan merupakan hasil dari kerja keras dari masing-masing individu dan ketrampilan yang mereka miliki, tapi kunci keberhasilan proyek sesungguhkan adalah ada pada kemampuan mereka untuk berkolaborasi dalam tim.

Agile mampu memberikan produk yang baik dan sesuai kebutuhan pasar, itu semua karena sistem komunikasi antara tim pengembang dengan pelanggan yang dilakukan secara berkesinambungan. Selain itu pengerjaan proyek yang dibagi atau dipecah menjadi beberapa bagian dan pengiriman software kepada pelanggan secara bertahap dalam waktu yang singkat (tidak lebih dari satu bulan) akan meningkatkan kepercayaan (trust) pelanggan kepada tim pengembang. Dengan pengiriman secara betahap dan berulang akan mempermudah tim agile untuk merespon perubahan, mudah dalam perbaikan, dan mengantisipasi lonjakan biaya produksi yang tidak terprediksi sebelumnya. Proses agile memang dituntut mampu beradaptasi secara cepat, agar mampu menjawab persoalan-persoalan yang tidak bisa diprediksi.

Hubungan biaya produksi dengan jadwal pengerjaan juga bisa dilihat pada gambar dibawah,

Sementara cukup sampai sini dulu, next time InsyaAlloh lanjut…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *